Diskusi Aktual Dalam Rangka Inventarisasi Program-Program OPD dalam Rangka Penanggulangan Kemiskinan

By Administrator // Rabu, 10 April 2019 // 11:29 WIB // Bidang Litbang

Bidang Litbang Bappeda Kota Pontianak mengadakan Diskusi Aktual dalam Rangka Inventarisasi Program-Program OPD dalam Rangka Penanggulangan Kemiskinan di Kota Pontianak. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 10 April 2019 bertempat di Ruang Aula Rohana Muthalib Bappeda Kota Pontianak. Rapat ini dihadiri oleh perwakilan dari Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pontianak, Kepala Badan Keuangan Daerah Kota Pontianak, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Pontianak, Kepala Dinas Penanaman Modal. Tenaga Kerja dan PTSP Kota Pontianak, dan Kabid, Kasubbid serta staf di lingkungan Bappeda Kota Pontianak

Diskusi dibuka oleh Plt. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah yang menyampaikan bahwa kemiskinan merupakan salah satu indikator dalam menentukan keberhasilan pembangunan. Sebagai narasumber adalah Kepala Badan Pusat Statistik Kota Pontianak, Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak dan Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Tanjungpura.

Menurut BPS kemiskinan adalah kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan (diukur dari sisi pengeluaran). Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki pengeluaran per kapita perbulan lebih kecil dari Garis Kemiskinan. Salah satu aspek penting untuk mendukung Strategi Penanggulangan Kemiskinan adalah tersedianya data kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran. Jenis data Kemiskinan yang tersedia yang dikumpulkan oleh BPS adalah Kemiskinan Makro dan Kemiskinan Mikro.

1. Data Kemiskinan Makro

Data kemiskinan makro yang dihasilkan oleh BPS adalah data kemiskinan yang bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Indikator kemiskinan yang dihasilkan diantaranya adalah persentase penduduk miskin, yaitu persentase penduduk yang pengeluarannya berada di bawah garis kemiskinan (yang disebut Po/ Head Count Index), jumlah penduduk miskin, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1/ Poverty Gap Index), Indeks Keparahan Kemiskinan (P2/ Poverty Severity Index).

2. Data Kemiskinan Mikro

Data kemiskinan mikro  didasarkan pada indeks atau PMT dari ciri-ciri rumah tangga miskin (variabel non moneter) yang dapat dikumpulkan dengan mudah. Indikator-indikator yang digunakan ada sebanyak 14 variabel, yaitu:

NO

VARIABEL KEMISKINAN

KRITERIA

1

Luas lantai per anggota rumah tangga/keluarga

< 8m²

2

Jenis lantai rumah

Tanah/papan/kualitas rendah

3

Jenis dinding rumah

Bambu, papan kualitas rendah

4

Fasilitas tempat buang air besar (jamban)

Tidak punya

5

Sumber air minum

Bukan air bersih

6

Penerangan yang digunakan

Bukan listrik

7

Bahan bakar yang digunakan

Kayu/arang

8

Frekuensi makan dalam sehari

Kurang dari 2 kali sehari

9

Kemampuan membeli daging/ayam/susu dalam seminggu

Tidak

10

Kemampuan membeli pakaian baru bagi setiap ART

Tidak

11

Kemampuan berobat ke puskesmas/poliklinik

Tidak

12

Lapangan pekerjaan kepala rumah tangga

Petani gurem, nelayan, pekebun

13

Pendidikan kepala rumah tangga

Belum pernah sekolah/tidak tamat SD

14

Kepemilikan aset/barang berharga minimal Rp. 500.000,-

Tidak ada

 

Melihat kondisi saat ini mengenai kemiskinan yang ada di Kota Pontianak  salah seorang Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Tanjungpura memberikan saran pengurangan angka kemiskinan dengan memanfaatkan  sektor pariwisata yang memiliki peluang yang cukup besar dalam meningkatan pendapatan masyarakat dengan menciptakan peluang pekerjaan yang nantinya dapat mengurangi angka kemiskinan di Kota Pontianak. Hal ini dapat dicapai dengan mengembangkan dan menata produk pariwisata berbasis ekonomi kreatif. Ekonomi Kreatif adalah pendekatan, tren, konsep dan kegiatan ekonomi yang bersumber dari kreatifitas, inovasi, bakat, ide dan gagasan serta mengandalkan SDM sebagai faktor produksi untuk menjalankan ekonomi. Sumbangan yang dapat diberikan dari pariwisata dan ekonomi kreatif yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran , melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, serta mempererat persahabatan antar bangsa

Pemerintah Kota Pontianak dalam hal ini Dinas Sosial Kota Pontianak telah melaksanakan program dan kegiatan dalam rangka Pemberdayaan Fakir Miskin dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) adalah sebagai berikut:                                                                

  1. Pelatihan Automotif
  2. Pelatihan Satpam
  3. Pelatihan Menjahit Bagi Wanita Rawan Sosial
  4. Kelompok Usaha Bersama Permata Hati (Gas)
  5. Program Keluarga Harapan

Program dan kegiatan diatas dilakukan sebagai salah satu upaya mengurangi angka kemiskinan di Kota Pontianak. Tentunya tidak hanya Dinas Sosial yang memiliki tugas untuk melaksanakan program dan kegiatan dalam rangka mengurangi angka kemiskinan, masih terdapat beberapa OPD yang memiliki tugas dalam rangka mengurangi angka kemiskinan. Maka dari itu diperlukan adanya integrasi antar OPD agar masing-masing program yang dilaksanakan tidak saling tumpang tindih dan berjalan secara maksimal.

Share Post: