Kunjungan Kenegaraan Ratu Denmark: Pemerintah Kota Pontianak tandatangani MoU dengan Pulau Bornholm Denmark dihadapan Ratu

By Administrator // Senin, 26 Oktober 2015 // 12:59 WIB // Liputan Khusus

 

 

Pada tanggal 22-24 Oktober Yang Mulia Ratu Denmark Margrethe Alexandrine Þórhildur Ingrid (Ratu Margrethe II) dan suaminya Yang Mulia Pangeran Consort Henrik, berserta Delegasi Perdagangan  Denmark mengunjungi Indonesia.

Dengan mengusung tema “Kemitraan Inovativ untuk Abad 21”, dalam kunjungan ke Indonesia pertama kalinya ini, Pasangan Kerajaan tersebut didampingi oleh Menteri Luar Negeri Denmark Mr. Kristian Jensen, Menteri Energi, Utilitas dan Iklim Mr. Lars Christian Lileholt, Duta Besar Denmark untuk Indonesia Mr. Casper Klynge beserta lebih kurang 60 delegasi perusahaan bisnis yang akan melihat kemungkinan peluang bisnis dan investasi di Indonesia. Perusahaan-perusahaan Denmark dikenal sebagai perusahaan bertaraf dunia dalam hal kompetensi, teknologi dan solusi yang berkenaan dengan kelautan, teknologi menyangkut pengelolaan sampah perkotaan, agribisnis serta desain dan aksesoris untuk gaya hidup.

Kunjungan pertama kalinya dalam sejarah 65 tahun peringatan hubungan diplomatik antar Indonesia dan Denmark ini membuahkan kesepakatan di empat bidang. Yakni dialog antaragama, energi terbarukan, kemaritiman dan pendidikan.

Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Widodo menerima langsung kunjungan kenegaraan dari Ratu Denmark Margrethe II dan Pangeran Consort. Ini merupakan kali pertama Ratu Magrethe II mengunjungi Indonesia setelah 65 tahun menjalin hubungan bilateral.

Ratu dan Pangeran Denmark tiba di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2015) pukul 10.30 WIB. Keduanya langsung disambut oleh Presiden Jokowi dan Ibu Iriana.

 

          


Setelah itu dilakukan penyambutan kenegaraan di halaman Istana Merdeka. Kemudian Presiden Jokowi dan Ratu Margrethe II memasuki Istana untuk melakukan pertemuan bilateral.

Para menteri yang mendampingi Presiden Jokowi antara lain adalah Menko Maritim Rizal Ramli, Menlu Retno LP Marsudi, Mendikbud Anies Baswedan, Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Mensesneg Pratikno serta Seskab Pramono Anung. Hasil dari pembicaraan kenegaraan ini yakni penandatanganan nota kesepahaman tentang maritim, kebudayaan, energi dan dialog antar umat beragama.


"Jadi empat itu yang dibicarakan. Tapi lebih konkretnya setelah menteri-menteri terkait sudah berbicara," kata Jokowi usai pertemuan.


Jokowi dan Margrethe II juga sempat berbincang mengenai seni batik dan lukisan dari Indonesia. Sang Ratu Denmark rupanya amat menyukai batik asli Indonesia.

"Ya, yang ditanyakan pembuatannya berapa hari, saya bilang yang ini yang untuk motif lereng ini sampai enam bulan, yang motif lain tadi apa tadi kombinasi lereng dan kompetisi motif lain tadi empat bulan. Penjelasan-penjelasan seperti itu. Beliau suka semua motif batik," ungkap Jokowi.


Secara terpisah Mendikbud Anies Baswedan menyatakan mengenai MoU yang dia tandatangani. Nantinya pelajar dan guru dari Indonesia akan berkesempatan belajar tarian serta kebudayaan lain ke Denmark.


"Jadi pengembangan pendidikan kesenian dari sana. Sebaliknya kita ingin undang kegiatan seni di Indonesia. Spesifiknya masih didiskusikan," kata Anies.


Dilain pihak Menlu Retno menjelaskan mengenai kerja sama hubungan bilateral yang semakin intensif antara kedua negara. Prioritas kerja sama yakni dialog antar agama.

"Kita adalah negara muslim yang paling besar namun pada saat yang sama kita bisa berkembang sebagai negara yang besar secara demokratik tetapi kita juga mengadopsi value of tolerance, value of pluralism dan sebagainya sehingga kita bisa kembangkan value seperti ini dengan negara lain untuk memberikan pemahaman pentingnya value of tolerance," tutur Retno.


Menlu Denmark juga sempat berkunjung ke Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang letaknya bersebelahan. Denmark memandang Indonesia sebagai negara penting di kawasan. 

 

"Kita priorotas empat hal seperti yang disampaikan Presiden. Ini merupakan upaya peningkatan hubungan bilateral," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta. Retno menjelaskan, kerja sama peningkatan dialog antaragama dilatarbelakangi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia tapi mampu menjaga toleransi dalam keberagaman suku, budaya, agama dan ras. Di bidang energi, Denmark melirik pengembangan proyek energi angin di Sumba, Nusa Tenggara timur (NTT).


"Sehingga kita bisa mengembangkan values seperti ini dengan negara lain untuk memberikan pemahaman pentingnya value of tolerance. Kemudian pilot projectyang sudah ada adalah wind energy di Sumba dan kita juga ingin mengembangkan renewable energy yang lain," tutur Retno.


Denmark juga ingin bekerja sama di bidang kemaritiman, khususnya memerangiillegal fishing. Mengenai kerja sama pendidikan, Menlu Retno menambahkan, Indonesia-Denmark sudah memiliki kerja sama di 14 universitas di kedua negara.


Menurut Retno, ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama Ratu Denmark sejak Indonesia merdeka. Kunjungan ini juga dimanfaatkan RI untuk meminta dukungan sebagai anggota tidak tetap di DK PBB periode 2019-2020. "Jadi sejak kita membuka hubungan diplomatik dengan Denmark, ini baru pertama kalinya seorang kepala negara Denmark berkunjung ke Indonesia. Tadi juga minta dukungan Denmark untuk keanggotaan tidak tetap Indonesia di DK PBB," kata Retno.

 

Pemerintah Kota Pontianak Tandatangani MoU dengan Bornholm Island

Sehari setelah acara kenegaraan yang diselenggarakan dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Ratu Denmark, Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia menyelenggarakan acara bertajuk “Diskusi tentang Energi Terbarukan dan Kota Keberlanjutan + Pameran Teknologi Bersih Denmark”. Acara tersebut dilaksanakan di Gran Rubina Office Park, sebuah gedung yang dibangun dengan konsep Green Energy, 25% lebih efisien dibandingkan gedung kantor dengan ukuran yang sama di Indonesia, hasil kerjasama antara Perusahaan Konsultan/ Kotraktor Indonesia dan Denmark. Hal tersebut merupakan sebuah contoh yang baik bagaimana perusahaan serta otoritas Denmark dan Indonesia dapat bekerjasama dan menciptakan solusi terhadap isu energy dan penataan kota.

Dalam acara tersebut diiringi dengan penanda kontrak kerjasama antara Vestas (Perusahaan Denmark) dan Asia Green Capital Partners. Melalui kontrak ini Vestas akan menyediakan turbin tenaga angin untuk Proyek Jeneponto 1 Wind Farm di Sulawesi Selatan yang memiliki kapasitas 62,5 MW, yang mana merupakan proyek Listrik Tenaga Angin pertama dan terbesar di Indonesia.

Selanjutnya diselenggarakan pula seminar bertema “Denmark Saat Ini – Indonesia Masa Depan : Transisi Menuju Energi Terbarukan untuk Meraih Low-Carbon Economy”. Dalam seminar tersebut digambarkan berbagai upaya dan penaglaman yang dilakukan Denmark dalam rangka mewujudkan 100% energy bersumber dari sumber daya yang terbarukan. Dalam kesempatan seminar ini juga hadir dari PLN memaparkan kondisi kelistrikan Indonesia yang masih sangat bergantung dari sumber sumber energy yang tidak terbaruan (berbahan bakar fosil).

Masih dalam rangkaian acara yang sama, dilakukan pula penandatanganan kerjasama antara Pemerintah Kota Pontianak yang diwakili oleh Wakil Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dengan Bornholm Island Denmark yang langsung diwakili oleh walikotanya Ms. Winni Grosboll. Penandatanganan Memorendum of Understanding (MoU) tersebut dilakukan langsung dilakukan dihadapan Ratu Denmark, Menteri Luar Negeri Denmark, Menteri Energi, Utilitas dan Iklim, Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Duta Besar Indonesia untuk Denmark serta para delegasi bisnis yang hadir.

               

               

 

Penandatanganan MoU tersebut menandai hubungan kerjasama yang setara antara dua Pemerintah Daerah di bidang Inovasi dan Pendidikan, Pengembangan Teknologi dan Produk Energi/suplai listrik di luar jaringan listrik yang sudah ada (tenaga surya, air, biomasa, dan sampah) serta Kewirausahaan dan Pengembangan Bisnis.

Sebagai bentuk keseriusan Bornholm Island melakukan kerjasama, Walikota Bornholm Ms. Winni Grosboll didampingi oleh para petinggi ØSTKRAF, Mr. Knud Andersen (Komisaris Utama), Mr. Klaus Veslov (Direktur Pemasaran) serta Mr. Jan Hoybye (konsultan Denmark: Just Business).

ØSTKRAF sendiri dikenal sebagai sebuah perusahaan terkemuka di Denmark yang memproduksi dan menyediakan energy listrik dari berbagai sumber terbarukan di Denmark. Selanjutnya kedua petinggi ØSTKRAF tersebut didampingi oleh konsultan Just Business dari Denmark mengunjungi Kota Pontianak pada tanggal 24-29 untuk membahas lebih detil terkait implementasi teknis dari MoU yang telah ditandatangani tersebut.

Dalam kerjasama antara dua Pemda ini, juga melibatkan institusi perguruan tinggi di Pontianak yaitu Universitas Tanjungpura yang diwakili oleh Innovation and Product Development Center (INVENT). General Manager INVENT Untan, Dr.Eng, Ferry Hadary menjelaskan bahwa awal kerjasama antara Kota Pontianak dengan Bornholm Island merupakan perluasan kerjasama yang telah dilakukan sebelumnya antara Universitas Tanjungpura dengan pihak Denmark melalui DANIDA (Danish International Development Agency), sebuah lembaga yang didirikan Pemerintah Denmark untuk mewadahi bantuan kemanusiaan dan bantuan di negara-negara berkembang. Ferry menyatakan bahwa salah satu inisiator awal yang sangat berperan dalam kerjasama antar dua Pemda tersebut adalah Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Denmark dan Republik Lithuania, Bapak Bomer Pasaribu.

Seusai penandatangaanan MoU diselenggarakan diskusi dalam Forum Walikota yang mengangkat topic diskusi tentang “Energi Terbarukan dan Kota yang Berkelanjutan”. Hadir sebagai pemateri dalam panel diskusi tersebut adalah Walikota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal, Walikota Balikpapan H.M. Rizal Effendi, Walikota Bandung Ridwan Kamil serta Walikota Bornholm Island Winni Grosboll.

 

 

Dalam forum dsikusi tersebut masing-masing walikota memaparkan usaha-usaha yang telah dilakukan kotanya dalam rangka menuju kota yang berkelanjutan dengan ditopang oleh energy yang berkelanjutan. Maisng-masing walikota sepakat bahwa isu energy yang berkelanjutan merupakan isu yang segera harus diimplementasikan dalam kerangka pembangunan kota. Karena hanya dengan ditopang oleh energy yang sustainable lah kota-kota yang berkelanjutan dapat dikelola dengan baik.

 

Kunjungan ØSTKRAF dan Tindak Lanjut Kerjasama

Sebagai langkah awal untuk menindaklanjuti MoU yang telah ditandatangani, Pemerintah Daerah Bornholm Island yang diwakili oleh dua pertinggi ØSTKRAF, Mr. Knud Andersen (Komisaris Utama), Mr. Klaus Veslov (Direktur Pemasaran) serta Mr. Jan Hoybye (konsultan Denmark: Just Business) melakukan kunjungan dan survey awal ke Pontianak pada 24-29 Oktober.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji secara khusus menerima kunjungan delegasi tersebut di kediaman jabatannya, Selasa (27/10). Dalam pertemuan tersebut dibahas langkah-langkah lebih lanjut terkait kerja sama yang telah dituangkan dalam nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU), yang sebelumnya telah ditandatangani Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono.

Dalam MoU yang ditandatangani di Kedutaan Denmark disaksikan Ratu Denmark, Margrethe II, tertuang beberapa item diantaranya pengembangan teknologi solar cell atau panel surya, pengolahan sampah dan limbah menjadi energi, pengemasan produk atau packaging serta produk-produk home industry yang bisa dipasarkan di Denmark.
Sutarmidji berharap, MoU ini tidak hanya sekadar di atas kertas tetapi harus segera direalisasikan.

Setiap kerja sama yang telah disepakati, pihaknya serius untuk mengimplementasikannya termasuk kerja sama yang dijalin dengan Denmark. “Kita akan segera merumuskan langkah-langkah teknis untuk melancarkan penerapan MoU ini,” ujarnya.

Terkait kerja sama dalam pengembangan teknologi panel surya atau solar cell, ia berharap Kota Pontianak bisa memproduksi sendiri panel surya tersebut untuk digunakan masyarakat secara luas. “Karena secara geografis, Pontianak punya sinar matahari yang melimpah mengingat kota ini dilalui garis Khatulistiwa,” imbuh Midji.
Sedangkan untuk pengolahan sampah, dirinya meminta melalui kerja sama ini bisa ditemukan cara pengolahan sampah yang terbaik mengingat kondisi tanah di Kota Pontianak bergambut dan rentan terbakar.

“Mereka (Denmark) sudah cukup maju dalam hal penanganan sampah menjadi energi listrik. Secepatnya Pemkot akan mengirim tim untuk merealisasikan kerja sama ini,” tuturnya.“Mereka (Denmark) sudah cukup maju dalam hal penanganan sampah menjadi energi listrik.

Selain itu, Pemkot juga menjalin kerja sama dalam hal pengemasan produk UMKM. Dengan kerja sama itu, diharapkan mampu mendukung perkembangan industri kreatif di Kota Pontianak. Sebagai kota yang tidak memiliki sumber daya alam (SDA), Pontianak diuntungkan dengan kekayaan sumber daya manusianya (SDM), di mana sebagian besar penduduknya ada di usia produktif. “Kita tidak punya SDA, tapi kita punya SDM. SDM ini harus terus dimotivasi untuk bergerak di industri kreatif dan terus berinovasi,” ungkapnya.

 


Pemkot juga akan menjajaki produk-produk home industry yang dimiliki Kota Pontianak untuk dipasarkan khususnya di Bornholm dan Denmark umumnya. Sebelumnya, Bornholm sudah pernah memasarkan produk-produk mereka di kawasan area Car Free Day (CFD) di Kota Pontianak. “Sekarang kita diundang untuk memasarkan produk kita, model produk seperti apa yang mereka senangi,” terangnya.

Bukannya tak percaya dengan teknologi dan pakar dalam negeri, namun Wali Kota Pontianak Sutarmidji lebih memilih Denmark sebagai mitra kerja sama pengolahan sampah, energi surya, serta packing home industry. Pasalnya, dalam hal mencari energi terbarukan (selalu tersedia di alam, berasal dari proses alam) alias energi bukan berasal dari nuklir dan fosil, Denmark sudah lumayan maju.

Knud Andersen, Chairman of The Board of Ostkraft mengungkapkan, ada dua hal penting yang tertuang dalam MoU antara Pemkot Pontianak dengan Pemerintah Denmark, yakni terkait pengolahan limbah dan sampah serta sumber-sumber energi hijau. Berbeda dengan Denmark, di mana perlu sistem penghangat lantaran cuaca di sana dingin, sebaliknya Kota Pontianak dengan karakter geografisnya bersuhu tropis bisa dilakukan dengan mengubahnya menjadi sistem pendingin ruangan dengan memanfaatkan energi yang ramah lingkungan serta dapat diperbaharui atau renewable.

Jan Hoybye, yang mendampingi Knud, menyebutkan Pemerintah Denmark optimistis dengan kerja sama yang terjalin ini. Terlebih, saat penandatanganan MoU disaksikan langsung oleh Ratu Denmark, Margrethe II. “Ini sesuatu yang langka. Ratu kami sampai hadir menyaksikan penandatangan MoU,”

“Terkait dengan pengolahan sampah dan limbah tadi, pengolahan limbah akan menjadi satu hal yang penting karena ini berhubungan dengan penggunaan energi-energi ramah lingkungan,” jelasnya. Jan Hoybye dari Just Business, yang mendampingi Knud, menyatakan, Pemerintah Denmark juga optimis dengan kerja sama yang terjalin ini. Terlebih, saat penandatanganan MoU disaksikan langsung oleh Ratu Denmark, Margrethe II. Menurutnya kejadian itu sebagai sesuatu yang langka. Hal ini mengindikasikan bahwa Pemerintah Denmark dan Kota Bornholm benar-benar serius menjalankan kerja sama ini. “Kami selaku pelaksana juga mendapatkan tekanan yang positif hanya dengan hadirnya Ratu kami,” pungkasnya.

 

Rencana Magang Siswa SMK ke Denmark

Sebagai rangkaian dari MoU yang telah ditandatangani tersbeut, dalam waktu dekat program yang akan segera dilaksanakan adalah pengiriman siswa untuk magang di Denmark. Sedikitnya delapan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kota Pontianak direncanakan akan mengikuti magang di Denmark.


Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono mengatakan, penandatanganan MoU dengan Wali Kota Bochum, Denmark, yang disaksikan oleh Ratu Denmark, Margrethe II, Duta Besar Indonesia untuk Denmark, Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Menteri Luar Negeri dan Menteri Investasi Denmark tersebut, berisikan kesepakatan kerja sama dalam rangka menuju Green City and Green Building.


“Denmark akan membantu Pemkot Pontianak untuk mencapai dua hal itu. Satu di antara bentuknya, para siswa SMK kita akan magang di sana (Denmark). Mungkin mulai tahun depan, dikirim beberapa orang,” kata Edi. Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak, Mulyadi menuturkan, MoU dengan Denmark ini dijembatani juga oleh pihak Universitas Tanjungpura Pontianak. Nantinya, para siswa SMK akan mengikuti program magang selama beberapa waktu, dengan jumlah peserta kurang lebih delapan orang.


“Sebelum berangkat, mereka akan diberikan pembekalan dulu. Untuk biaya ditanggung Pemkot,” ujar Mulyadi. Para siswa yang akan magang di Denmark merupakan siswa SMK pilihan se-Kota Pontianak, dilihat dari prestasi dan kemampuan siswa. Langkah ini kata Mulyadi, selain berguna untuk menambah pengetahuan para siswa, juga memberikan peningkatan kompetensi. Jiwa kewirausahaan pun akan muncul dari siswa-siswi ini kelak.


“Tentu menambah pengetahuan mereka, peningkatan kompetensi, dan bagaimana jiwa kewirausahaan itu muncul dari mereka. Sangat bagus, mudah-mudahan bisa berlanjut pada hal yang lain,” harapnya. Mulyadi menuturkan, selama ini pihaknya memang belum pernah bekerjasama dengan pemerintahan luar negeri dalam program magang siswa. Namun, jika bentuknya kerjasama dengan perusahaan atau lembaga asing, sudah dilakukan sejak lama.

“Sebelumnya belum pernah. Hanya kalau Pontianak ada kerjasama antara sekolah dengan beberapa pihak asing, seperti dengan KOICA, satu di antara lembaga sosial yang ada di Korea Selatan,” ucapnya.

 

----***----

 

disarikan dari berbagai sumber
Share Post: