PEMBERDAYAAN EKONOMI KREATIF BERBASIS SUMBER DAYA LOKAL (Usaha Pengolahan Lidah Buaya di Kota Pontianak)

By Administrator // Selasa, 26 November 2019 // 11:52 WIB // BAPPEDA Kota Pontianak

Di era desentralisasi ekonomi dan pembangunan di Indonesia, pemerintah daerah memainkan peran penting untuk mengembangkan potensi ekonomi daerahnya yang pada gilirannya akan berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Kota Pontianak sebagai salah satu kota berkembang di Indonesia juga perlu mengidentifikasi potensi industri kreatif di daerahnya. Sebagai kota yang minim potensi sumber daya alam, industri kreatif juga bisa menjadi alternatif terbaik bagi Pontianak untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Jumlah pelaku ekonomi kreatif yang berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Pontianak sampai dengan tahun 2018 tercatat sebanyak 455 (empat ratus lima puluh lima). Dari 16 (enam belas) subsektor ekonomi kreatif, jumlah terbanyak berada pada subsektor kuliner seperti halnya di tingkat nasional. Jumlah pelaku ekonomi kreatif di subsector ini berjumlah 83 (delapan puluh tiga) orang atau 18 persen dari total keseluruhan pelaku ekonomi kreatif di Kota Pontianak. Subsektor film, animasi dan video berada pada urutan kedua dengan jumlah pelaku sebanyak 44 (empat puluh empat) orang (10%). Sedangkan jumlah paling sedikit adalah dari subsector televisi dan radio dengan pelaku hanya berjumlah 4 (empat) orang saja. Data ini masih mungkin terus bergerak dikarenakan belum adanya pendataan lebih lebih lanjut oleh lembaga survey resmi pemerintah seperti BPS.

Dari tahun 2017, jumlah pelaku ekonomi kreatif di Kota Pontianak mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Data tahun 2017 menunjukkan pelaku ekonomi kreatif Kota Pontianak hanya berjumlah 177 orang saja, pada tahun 2018 jumlah ini bertambah sebesar 278 orang menjadi 455 orang atau tumbuh lebih dari seratus persen. Data ini menggambarkan sektor ekonomi kreatif sangat menjanjikan untuk dikembangkan di Kota Pontianak sebagai salah satu menyumbang perekonomian daerah.

Pemberdayaan ekonomi kreatif dapat pula berperan dalam meningkatkan nilai tambah sektor lain seperti pertanian dan agribisnis dalam bentuk seni pertamanan, lansekap, dan kuliner produk makanan khas olahan dari komoditas pertanian. Usaha Pengolahan Hasil (UPH) Pertanian di Kota Pontianak tersebar di seluruh Kecamatan yang ada di Kota Pontianak. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pontianak dan Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak, UPH Pertanian di Kota Pontianak berjumlah empat puluh enam usaha yang terbagi ke dalam delapan jenis penggolongan yakni UPH lidah buaya, UPH singkong, UPH keladi, UPH pisang, UPH biofarmaka, UPH ubi rambat, UPH sukun dan UPH tempe. Dari empat puluh enam usaha tersebut 41 persennya merupakan UPH lidah buaya yakni sebanyak 19 UPH, diikuti UPH singkong dan UPH pisang masing-masing sebesar 22 persen dan 13 persen.

Tingginya minat pelaku usaha untuk mengolah lidah buaya menjadi produk olahan dikarenakan komoditas ini merupakan komoditas unggulan sekaligus ikon Kota Pontianak yang memiliki potensi cukup tinggi untuk mengembangkan ekonomi lokal. Perkembangan ekonomi lokal dari tanaman lidah buaya ini dapat disebabkan karena adanya kegiatan ekonomi dari hulu, berupa pertanian lidah buaya, hingga ke hilir, dalam bentuk pengolahan produk lidah buaya, yang menyebabkan terciptanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat di Kota Pontianak. Usaha untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lidah buaya perlu mendapatkan perhatian sehingga kesejahteraan masyarakat yang berkecimpung di dalamnya dapat ditingkatkan. Bentuk intervensi pemerintah Kota Pontianak dalam meningkatkan pengembangan ekonomi lokal khususnya ekonomi kreatif dalam bidang pertanian adalah dalam bentuk pemberdayaan usaha pengolahan lidah buaya di Kota Pontianak.

Metode yang digunakan untuk merumuskan strategi dan kebijakan pemberdayaan ekonomi kreatif usaha pengolahan lidah buaya di Kota Pontianak menggunakan analisis SWOT untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi ekonomi kreatif dengan membandingkan faktor internal yaitu Strength (kekuatan) dan Weakness (kelemahan) dengan faktor eksternal yaitu Opportunity (peluang) dan Threat (ancaman) yang dimiliki sektor ini. Berikut identifikasi faktor internal dan eksternal UPH lidah buaya di Kota Pontianak:

  1. Strengths (Kekuatan):
  • Berbahan Baku Berbasis Lokal

Bahan baku utama yang digunakan dalam produksi olahan lidah buaya merupakan komoditas lokal yang banyak ditanam petani setempat. Sehingga untuk pengadaannya tidak tergantung pasokan dari luar daerah.

  • Memiliki Merk

Produk olahan lidah buaya yang diusahakan oleh para UPH di Kota Pontianak sudah memiliki merk. Beberapa merk sudah cukup dikenal masyarakat.

  • Harga Terjangkau

Harga dari produk olahan lidah buaya yang dijual di pasaran dapat terjangkau masyarakat tidak hanya masyarakat kalangan menengah ke atas, namun juga masyarakat golongan menengah ke bawah. Dengan demikian produk-produk ini sangat familiar bagi masyarakat Kota Pontianak sebagai makanan dan minuman ringan.

  • Makanan Khas

Kota Pontianak merupakan sentra produksi lidah buaya di Indonesia. Lidah buaya dikenal sebagai salah satu produk khas Kota Pontianak karena memiliki banyak keunggulan bila dibandingkan dengan lidah buaya yang diproduksi di daerah lain. Hal ini menyebabkan produk olahannya pun menjadi produk makanan yang khas, tidak diproduksi di daerah lain.

  1. Weaknesses (Kelemahan):
  • Keterbatasan kapasitas produksi

Kapasitas produksi sebagian besar UPH Lidah Buaya di Kota Pontianak masih sangat terbatas jumlahnya. Kebanyakan dari UPH ini masih berusaha pada skala rumahan yang produksinya masih rendah dan tidak kontinyu. Akibatnya, ketika ada permintaan dalam jumlah besar tidak mampu mereka penuhi.

  • Teknologi sederhana

Tidak seperti halnya dengan negara-negara maju, UMKM di Indonesia khususnya di Kota Pontianak umumnya masih menggunakan teknologi yang sangat sederhana dalam bentuk alat-alat produksi yang sifatnya manual, demikian pula yang dialami UPH lidah buaya. Keterbelakangan teknologi ini tidak hanya membuat rendahnya jumlah produksi dan efisiensi di dalam proses produksi, tetapi juga menyebabkan rendahnya kualitas produk yang dihasilkan.

  • Kemasan kurang menarik

Umumnya, kemasan produk olahan UPH lidah buaya kurang memenuhi standar, seperti tidak memenuhi aspek estetika atau keindahan, ergonomis, dan faktor keamanan produk. Kemasan dibuat apa adanya, tidak ringkas, dan mudah rusak.

  • Sistem jaminan mutu belum sepenuhnya diimplementasikan

Mayoritas pelaku UPH lidah buaya di Kota Pontianak masih belum mengimplementasikan sistem penjaminan mutu produk makanan yang dihasilkan. Hal ini terkait dengan rendahnya pemahaman pelaku usaha terhadap mutu produksi dengan memperhatikan faktor sanitasi dan Hygiene, Good Manufacturing Process atau Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Hal ini juga menunjukkan bahwa masih sedikitnya UPH yang memiliki Penerbitan Izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), label kadaluarsa belum tertera, barcode, serta Standar Nasional Indonesia (SNI).

  • Modal terbatas

UPH lidah buaya menghadapi dua masalah utama dalam aspek finansial antara lain: modal (baik modal awal maupun modal kerja) dan finansial jangka panjang untuk investasi yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan produksi dan pengembangan usaha jangka panjang.

  • Pemasaran masih terbatas

Masih banyak pelaku UPH yang punya produk tetapi bingung cara memasarkannya. Pemasaran produk olahan lidah buaya masih terbatas pada pasar tradisional dan bersifat lokal. Usaha pada umumnya merupakan unit usaha keluarga, mempunyai jaringan usaha yang terbatas dan kemampuan penetrasi pasar yang rendah. Ditambah lagi produk yang dihasilkan jumlahnya sangat terbatas dengan kualitas yang kurang kompetitif.

  • Kurangnya kemampuan dalam melakukan inovasi produk

Kemampuan sebagian besar pelaku UPH lidah buaya untuk melakukan inovasi produknya masih tergolong rendah. Kecenderungan yang terjadi pada kebanyakan pelaku usaha hanya sebagai follower, memproduksi produk yang sudah ada, sehingga sulit bersaing dengan produk yang sudah lebih dikenal oleh masyarakat terlebih dahulu. Daya kreatifitas untuk menciptakan variasi produk masih tergolong rendah.

  • Kualitas Sumber Daya Manusia yang kurang memadai

Keterbatasan kualitas sumber daya manusia pada UPH lidah buaya baik dari segi pendidikan formal maupun pengetahuan dan keterampilannya terutama dalam aspek-aspek kewirausahaan, manajemen, teknik produksi, pengembangan produk, sangat berpengaruh terhadap manajemen pengelolaan usahanya. Semua keahlian tersebut sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memperbaiki kualitas produk, meningkatkan efisiensi dan produktifitas dalam produksi, memperluas pangsa pasar dan menembus pasar baru.

  1. Opportunities (Peluang):
  • Ada permintaan produk dari masyarakat

Lidah buaya merupakan produk yang sudah cukup dikenal oleh masyarakat berkhasiat tinggi bagi kesehatan sehingga permintaan konsumen akan produk ini pun cukup tinggi. Permintaan akan meningkat pada saat hari besar keagamaan, terutama bulan Ramadhan dan lebaran.

  • Pertumbuhan sektor pariwisata

Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan sektor pariwisata di Kota Pontianak berdampak pada meningkatnya potensi produk sektor pangan, salah satunya produk olahan lidah buaya, dalam pengembangan usaha menjadi wisata kuliner. Ini berkaitan dengan meningkatnya promosi pemerintah pusat dan daerah yang diiringi dengan potensi produk makanan khas yang ada di Kota Pontianak. Konsep ini tertuang dalam regulasi pemerintah dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif melalui Badan Ekonomi Kreatif (BERKRAF) (UU No. 7/2014, Mendorong Perdagangan Berbasis Ekonomi Kreatif). Konsep wisata kuliner saat ini banyak dikembangkan oleh daerah, baik disantap secara langsung maupun sebagai oleh-oleh, sehingga dapat meningkatkan pembangunan ekonomi lokal sekaligus potensi UMKM sektor pangan di daerah tersebut, salah satunya adalah industri olahan lidah buaya di Kota Pontianak.

  • Pertumbuhan industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) produk khas lokal

Keberadaan UMKM di Indonesia sangat besar pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia. UMKM tersebar di seluruh penjuru nusantara dan menguasai sebagian besar aktivitas bisnis di Indonesia, dengan lebih dari 98 persen berstatus usaha mikro. Pertumbuhan industri UMKM di Indonesia pada umumnya dan Kota Pontianak pada khususnya membuka peluang semakin berkembangnya industri produk khas daerah seperti industri pengolahan lidah buaya di Kota Pontianak.

  • Berkembangnya internet dan sosial media

Perkembangan internet dan sosial media diperkirakan memberikan pengaruh sangat besar bagi UMKM. Pemanfaatan internet untuk bisnis tidak terbatas pada bisnis online yang melakukan penjualan via internet saja. Ada banyak hal yang dapat dilakukan pelaku usaha lewat internet diantaranya untuk keperluan promosi, membuat komunitas, membangun jaringan, hingga mempererat komunikasi.

  • Perkembangan gadget dan teknologi

Di era teknologi komunikasi saat ini, pemanfaatan teknologi komunikasi menjadi hal yang perlu dilakukan UMKM, termasuk UPH lidah buaya. Apalagi ditunjang dengan perkembangan gadget yang pesat pula. Peran teknologi informasi memiliki potensi penting untuk meningkatkan daya saing UMKM. Perangkat teknologi komunikasi tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi semata, namun telah merambah pada layanan internet mobile yang didukung kontain dan aplikasi khusus yang sangat membantu penggunanya, khususnya pelaku UMKM. Cukup dengan mengendalikan perangkat komunikasi smartphone, pelaku UMKM dapat membangun jaringan pasar. Demikian juga dengan kebutuhan informasi seputar UMKM dapat dilakukan dengan browsing melalui gadget.

  1. Threats (Ancaman):
  • Banyaknya produk makanan asing

Provinsi Kalimantan Barat merupakan provinsi yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia. Kondisi ini berdampak pada masuknya produk-produk makanan asal negara tersebut ke Indonesia. Kota Pontianak sebagai salah satu kota di Kalimantan Barat juga merasakan dampak tersebut berupa membanjirnya produk-produk makanan asal Malaysia di pasaran. Hal ini dapat menjadi ancaman bagi produk-produk makanan produksi asli daerah bila produk lokal tidak mampu bersaing.

  • Pesaing memasang harga lebih rendah

Tidak hanya persaingan dari negara lain, ancaman juga datang dari produk-produk serupa yang berasal dari daerah lain di Indonesia, sebagai contoh produk minuman dari jenis komoditas lain. Para pesaing produk-produk serupa memasang harga yang lebih rendah dari produk lokal. Hal ini dapat menarik minat konsumen untuk beralih ke produk pesaing.

 

Implementasi dari strategi yang diperoleh dari hasil analisis SWOT meliputi:

  • Menjamin Ketersediaan Bahan Baku

Kota Pontianak merupakan sentra produksi tanaman lidah buaya di Indonesia. Pada awal tahun 2000-an komoditas ini pernah menjadi komoditas ekspor dalam bentuk pelepah segar ke beberapa negara tetangga seperti Jepang, Hongkong, Taiwan dan lainnya. Luas panen tanaman lidah buaya mencapai puncaknya pada tahun 2004 dengan luasan sekitar 200 hektar dan produksi hingga mencapai di atas 16 ribu ton. Namun seiring berjalannya waktu luas panen dan produksi komoditas ini mengalami penurunan yang cukup signifikan, hingga saat ini hanya tersisa kurang lebih 80 hektar saja, dengan produksi antara 9 hingga 10 ton pertahunnya. Penurunan produksi ini disebabkan diantaranya karena terjadinya alih fungsi lahan, meningkatnya harga pupuk, dan menurunnya permintaan akan komoditas ini.

Untuk mencegah laju penurunan produksi lidah buaya yang dapat berdampak pada langkanya ketersediaan pasokan bahan baku produk olahan, pemerintah Kota Pontianak yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan melakukan berbagai upaya diantaranya memberikan bantuan sarana prasarana kepada petani lidah buaya, melaksanakan penyuluhan dan pembinaan kepada para petani lidah buaya. Dengan demikian diharapkan ketersediaan bahan baku produk olahan dapat terus terjamin ketersediaannya.

  • Melakukan Diversifikasi (Menambah Variasi) Produk Unggulan

Usaha penganekaragaman produk bertujuan memperkaya jenis produk olahan lidah buaya dengan menciptakan varian-varian baru yang dapat menarik konsumen. Di tingkat UPH sendiri diversifikasi produk dapat mencegah terjadinya krisis pendapatan, sehingga apabila usaha mengalami kemorosotan pendapatan pada salah satu produk masih dapat ditutupi dari pendapatan produk lainnya.

Usaha yang telah ditempuh diantaranya dengan melakukan uji coba inovasi produk olahan lidah buaya melalui pengujian di laboratorium pengolahan hasil pada UPTD Agribisnis Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak oleh tenaga ahli pengolahan hasil pangan. Dinas ini juga kerap melakukan lomba masak cipta menu berbahan dasar lidah buaya yang diikuti oleh masyarakat umum. Untuk mendorong kreatifitas masyarakat dalam menganekaragamkan produk olahan lidah buaya Pemerintah Kota Pontianak menyelenggarakan “Pontianak Ekonomi Kretaif Expo dan Festival Kuliner” yang salah satu acaranya adalah lomba masak rendang lidah buaya.

  • Memberikan Bantuan Teknologi/Sarana dan Prasarana Produksi

Masalah rendahnya pemanfaatan teknologi UPH lidah buaya disikapi pemerintah dengan memberikan bantuan teknologi dan sarana prasarana produksi seperti water purifier, genset, mesin sealer, kompor gas, wajan, timbangan, mixer, blender, keranjang dan lain sebagainya.

  • Menerapkan Sinergitas Antara Perguruan Tinggi, Praktisi dan Pelaku Industri Pengolahan Hasil Pertanian

Sinergitas dengan Perguruan Tinggi di Kota Pontianak para praktisi dan pelaku industri pengolahan pertanian diperlukan guna meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Bentuk kerjasama diantaranya berupa transfer teknologi dari hasil kajian dan penelitian para akademisi untuk dapat diaplikasikan oleh UPH lidah buaya.

  • Meningkatkan Pendampingan oleh Tenaga Ahli

Dalam upaya pengembangan UPH lidah buaya, pemerintah melakukan upaya dengan memberikan pendampingan oleh tenaga ahli. Upaya pendampingan ini dilakukan oleh penyuluh pertanian dan pengolahan hasil Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak dengan mendatangi para UPH untuk melakukan pembinaan secara langsung baik berupa praktek, penyuluhan, memberikan saran dan masukan berkaitan dengan produksi, membantu memecahkan masalah produksi yang dihadapi UPH dan sebagainya. 

  • Menerapkan Manajemen Mutu dan Kemananan Pangan

Pentingnya penerapan manajemen mutu dan keamanan pangan cukup mendapat perhatian dari pemerintah. Upaya peningkatan penerapan manajemen mutu dan kemanan pangan dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti pengawasan produk olahan hasil pertanian, penyusunan SOP pengolahan, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi. Pengawasan produk olahan hasil pangan rutin dilakukan oleh petugas Pengawas Mutu Hasil Pertanian melalui pengambilan sampel produk di pasaran untuk kemudian dilakukan pengujian di laboratorium untuk mengetahui apakah produk tersebut mengandung zat berbahaya. Penyusunan Standar Operasional Prosedur Pengolahan Produk Olahan Lidah Buaya dilakukan sebagai acuan prosedur standar dalam pengolahan produksi. Kegiatan pendampingan oleh tenaga ahli seperti Penyuluh, dan tenaga Pengawas Mutu Hasil Pertanian dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada pelaku usaha akan acara memproduksi pangan agar aman, bermutu dan layak konsumsi, pengendalian higienitas untuk menghindarkan dari cemaran, kelengkapan ruang produksi, bagaimana penyimpanan produk pangan yang baik, penetapan masa kadaluarsa produk dan lainnya. Sementara itu, kegiatan monitoring dan evaluasi diperlukan untuk mengetahui apakah sistem manajemen mutu dan keamanan pangan sudah diterapkan UPH sebagai bahan evaluasi langkah-langkah apa yang perlu dilakukan kedepannya untuk terus meningkatkan pelayanan pemerintah dalam kaitannya dengan penerapan manajemen mutu dan kemanan pangan.

  • Meningkatkan Kualitas SDM

Strategi yang telah diupayakan pemerintah dalam meningkat kualitas SDM pelaku UPH lidah buaya adalah melalui kegiatan pelatihan pengolahan dan kewirausahaan serta bimbingan kegiatan magang yang dilaksanakan oleh dilaksanakan oleh Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak.

  • Memfasilitasi UMKM dalam Promosi Pemasaran Produk Olahan Lidah Buaya

Kendala yang sering dihadapi sebagian besar UPH lidah buaya adalah dalam hal pemasaran. Tingginya biaya promosi yang sulit ditanggung para UPH menyebabkan terbatasnya jaringan pemasaran. Upaya pemerintah untuk mengatasi hal ini dilakukan dengan memfasilitasi UMKM dalam promosi pemasaran produk olahan lidah buaya dengan memajang dan menjual produk-produk olahan lidah buaya UPH setempat pada showroom Aloevera Center, UPTD Agribisnis, Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak untuk diperkenalkan kepada pengunjung yang datang. Fasilitasi juga dilakukan dengan mengikutsertakan produk-produk lidah buaya pada pameran-pameran baik lokal, nasional maupun internasional, seperti pameran ekonomi kreatif, pameran produk pangan, dan lain sebagainya. 

  • Memfasilitasi Kerjasama dengan Lembaga Keuangan Perbankan dalam Mencari Alternatif Sumber Pembiayaan Usaha

Masalah permodalan bagi pembiayaan usaha merupakan permasalahan klasik yang dialami hampir semua UMKM, termasuk UPH lidah buaya. Strategi pemerintah sebagai solusi permasalahan ini diantaranya dengan memfasilitasi kerjasama dengan lembaga-lembaga keuangan perbankan yang mempunyai fasilitas kredit lunak bagi UMKM.

  • Memfasilitasi Kerjasama dengan Instansi Terkait dalam hal Pengajuan Izin Usaha

Masih banyak UPH lidah buaya di Kota Pontianak yang belum memiliki izin usaha sebagaimana yang ditetapkan pemerintah, seperti izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT), sertifikat halal MUI dan perizinan lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut strategi yang ditempuh Pemerintah Kota Pontianak adalah dengan mempermudah proses perizinan dengan kebijakan satu pintu serta melakukan kerjasama dengan instansi terkait guna memfasilitasi pengajuan izin usaha. Kegiatan sosialisasi kepada pelaku UPH dengan menghadirkan pihak instansi terkait dilakukan sebagai upaya untuk menyebarkan informasi mengenai prosedur dan persyaratan pengajuan izin kepada masyarakat, khususnya pelaku UPH.  

  • Meningkatkan Kemitraan dengan Pelaku Bisnis Besar

Untuk memperluas jaringan pasar produk olahan lidah buaya pemerintah berupaya menghubungkan pelaku UPH dengan pelaku bisnis besar, seperti restoran, supermarket, hotel, hingga maskapai penerbangan. Pemerintah Kota Pontianak sangat konsen pada pengembangan produk olahan lidah buaya, dibuktikan dengan diterbitkannya Perwa yang menghimbau hotel-hotel yang ada di Kota Pontianak untuk menyajikan minuman lidah buaya sebagai welcome drink para tamu hotel. Pemerintah juga memberlakukan aturan pada minimarket-minimarket waralaba yang berbisnis di Kota Pontianak untuk menjual 20 persen produk UMKM lokal.

  • Mempertahankan Pangsa Pasar yang Telah Dikuasai

Semakin meningkatnya persaingan dengan produk makanan asing menuntut pelaku UPH lidah buaya untuk terus meningkatkan standar kualitas dan kuantitas produknya. Dengan meningkatnya daya saing produk lidah buaya pangsa pasar yang telah dikuasai dapat terus dipertahankan. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam hal ini dilakukan melalui penyuluhan kepada UPH mengenai prinsip-prinsip pengolahan makanan dan manajemen pemasaran yang baik.

  • Meningkatkan Kreatifitas Pelaku UPH Lidah Buaya dengan Pelatihan

Untuk meningkatkan kreatifitas para pelaku UPH lidah buaya dilakukan melalui kegiatan-kegiatan pelatihan baik yang diselenggarakan oleh Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak maupun instansi lainnya. Kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak merupakan bentuk transfer teknologi kepada pelaku usaha dan masyarakat pada umumnya dari hasil penelitian dan uji coba yang dilakukan di laboratorium pengolahan hasil.

 

Adapun capaian kinerja dari strategi yang telah diimplementasikan dapat terlihat dari beberapa hal berikut ini:

  • Pemanfaatan Teknologi

Adanya perubahan perilaku pelaku UPH dalam hal pemanfaatan teknologi dari sebelumnya masih menggunakan tenaga manual dan teknologi sederhana, kini mulai menggunakan teknologi yang lebih maju.

  • Terciptanya Beragam Variasi Produk

Bermunculannya berbagai variasi produk olahan lidah buaya dari sebelumnya hanya minuman dan dodol lidah buaya kini berkembang menjadi jelly, coklat, jus, teh, stick, nastar, rendang, bakso lidah buaya dan lainnya.

  • Peningkatan Kualitas Kemasan

Perubahan terlihat pula dari peningkatan kualitas kemasan, dari yang sebelumnya hanya kemasan sederhana kini terjadi perbaikan dengan kemasan yang lebih baik dan menarik.

  • Terbukanya Akses Permodalan

Kegiatan fasilitasi kerjasama dengan lembaga keuangan perbankan berhasil membuka akses permodalan bagi UPH lidah buaya. Beberapa UPH telah memanfaatkan fasilitas pinjaman lunak yang ditawarkan oleh perbankan.

  • Perluasan Pangsa Pasar

Penetrasi pasar ke restoran dan pasar ritel modern telah mendatangkan hasil dengan masuknya beberapa olahan produk lidah buaya ke pasar ritel modern seperti supermarket-supermarket dan mal yang tersebar di Kota Pontianak. Minuman lidah buaya menjadi produk yang selalu tersedia pada hampir seluruh restoran di Pontianak. Upaya penjajakan kerjasama dengan maskapai penerbangan juga berhasil ditempuh melalui kontrak kerjasama minuman lidah buaya sebagai produk yang disajikan bagi penumpang dan awak salah satu maskapai penerbangan nasional.

  • Peningkatan Standar Keamanan

Seiring dengan meningkatnya pemahaman masyarakat akan pentingnya peneraparan standar keamanan pada produksi olahan pangan, membawa perubahan perilaku pelaku UPH lidah buaya dalam berproduksi. Hal ini tergambar pada meningkatnya kesadaran akan kehigienisan pada saat produksi, bila sebelumnya tidak menggunakan kelengkapan standar seperti masker, sarung tangan, dan penutup kepala, kini kelengkapan tersebut sudah menjadi keharusan pada saat produksi.

  • Pemenuhan Standar Bangunan/Ruang Produksi sesuai Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Standar bangunan/tata ruang produksi sebagaimana yang disyaratkan pada sistem manajemen keamanan pangan sudah mulai dipenuhi oleh beberapa UPH lidah buaya. Bila sebelumnya ruang penyimpanan bahan baku, ruang cuci, ruang produksi dan pengemasan, serta penyimpanan produk jadi dijadikan dalam satu ruangan besar, saat ini beberapa UPH telah mengubah layout tata ruang dengan membagi ruang-ruang tersebut sesuai dengan peruntukannya.

  • Penerapan Sistem Jaminan Mutu

Dalam hal sistem jaminan mutu berupa surat izin dan sertifikat yang dipersyaratkan bagi pelaku dan produk olahannya, sudah mulai banyak diterapkan oleh UPH lidah buaya di Kota Pontianak seperti izin PIRT, sertifikat halal MUI, sertifikat Good Manufacturing Practice (GMP), Standar Nasional Indonesia (SNI), Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), dan lainnya.

  • Penghargaan

Hal yang cukup membanggakan Kota Pontianak adalah beberapa UPH lidah buaya binaan berhasil memperoleh penghargaan baik di tingkat lokal maupun nasional. Penghargaan tersebut diantaranya penghargaan IKM inovatif tingkat nasional, juara I gugus kendali mutu tingkat nasional, petani teladan, penghargaan One Village One Product (OVOP) bintang tiga, Shiddakarya tingkat Provinsi Kalimantan Barat, UKM Mandiri kerajinan, penghargaan kepedulian penggunaan produk dalam negeri, food star award, dan masih banyak lagi penghargaan lainnya. Pencapaian ini tentunya merupakan kerjasama yang baik antara pelaku usaha, pemerintah maupun lembaga-lembaga terkait dan masyarakat dalam usaha pemberdayaan pelaku usaha pengolahan lidah buaya di Kota Pontianak.

Penulis : Utri Dianniar

 

Share Post: