Peringatan Hari Berkabung Daerah Generasi Muda Harus Bangun Kalbar dan Pontianak untuk Menghargai Pe

By Administrator // Selasa, 30 Juni 2015 // 08:45 WIB // Liputan Khusus

Senin (29/6) di halaman Komplek Kantor Wali Kota Pontianak, Walikota  Pontianak beserta segenap jajaran memperingati Hari Berkabung Daerah (HBD) Provinsi Kalimantan Barat dengan menggelar upacara bendera.

 

Kegiatan ini merupakan pelaksanaan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni Sebagai Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat, yang tidak lain merupakan bentuk kepedulian sekaligus untuk mengenang peristiwa sejarah berdarah terhadap perjuangan pergerakan nasional yang terjadi di Mandor.

 

Wali Kota Pontianak yang langsung memimpin apel tersebut mengatakan, peristiwa Mandor dimana terjadi pembantaian massal pada tanggal 28 Juni 1944 silam meninggalkan rasa prihatin yang mendalam hingga saat ini karena satu generasi terdiri dari kaum cerdik pandai, cendekiawan maupun tokoh-tokoh di Kalbar menjadi korban kebiadaban tentara Jepang saat itu. Untuk menghormati para pahlawan tersebut, sudah semestinya merealisasikan apa yang diinginkan melalui pemikiran-pemikiran mereka baik untuk Kalbar umumnya dan Pontianak khususnya supaya daerah ini lebih cepat maju dan berkembang.

 

Banyak yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya misalnya membangun Kalbar maupun Pontianak dengan lebih maju dari sisi pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan bidang lainnya. “Nah, itu lah bentuk penghargaan kita kepada para pejuang dengan mewujudkan cita-cita mereka yang banyak tertuang dalam tulisan, dalam pemikiran maupun apa yang sudah mereka lakukan tapi belum mencapai hasil yang maksimal,” ujarnya.

            

Menurutnya, korban-korban peristiwa Mandor yang telah gugur berasal dari berbagai kalangan cendekiawan seperti dokter, insinyur, tokoh-tokoh dan lainnya maupun dari berbagai etnis dan agama, menunjukkan bahwa perjuangan multi etnis dari pejuang Kalbar yang heterogen ini bisa bersatu melawan penjajah. “Jepang sangat takut apabila persatuan seperti itu terjadi,” imbuh Sutarmidji.

 

Di tengah era modernisasi dan globalisasi serta heterogenitas masyarakat Kota Pontianak, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat memupuk rasa nasionalisme dan semangat kepahlawanan dalam melaksanakan dan mensukseskan pembangunan Kota Pontianak tanpa memandang suku, agama, ras dan golongan. “Sehingga nantinya masyarakat Kota Pontianak dapat menjadi masyarakat heterogen yang dapat bersaing secara global namun tetap bersatu dalam melaksanakan pembangunan dan menjunjung tinggi adat istiadat dengan semangat kepahlawanan,” pungkasnya. 

 

Sejarah Mandor

 


Terdapat berbagai macam tulisan yang mereview kejadian sejarah di Mandor. Berikut ringkasan singkat peristiwa Mandor yang disarikan dari berbagai tulisan untuk memberikan gambaran sejarah yang terjadi waktu itu.

 

 

Berdasarkan tulisan Aswandi (Tragedi Mandor Berdarah: Pontianak Post 27/6/2011), Peristiwa Mandor adalah peristiwa pembantaian massal yang menurut catatan sejarah terjadi pada tanggal 28 Juni 1944 di daerah Mandor, Kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat. Peristiwa Mandor ini sendiri sering dikenang dengan istilah Tragedi Mandor Berdarah yaitu telah terjadi pembantaian massal tanpa batas etnis dan ras oleh tentara Jepang dengan samurai.

 

Peritiwa tersebut diawali dengan kecurigaan pihak Jepang bahwa di Kalimantan Barat dan Selatan terdapat perkumpulan yang terdiri atas kaum cerdik pandai, cendikiawan, para raja, sultan, tokoh masyarakat, orang-orang Cina, para pejabat yang sering berkumpul membicarakan perlawanan terhadap Jepang.

 

Rupanya, berdasarkan informasi dari para informan Jepang, kelompok Banjarmasin itu telah menjalin hubungan dengan para aktifis di Pontianak. Tentu informasi dari Amir, seorang informan di Tokkei ini, membuat pihak Jepang marah. Menurut Amir, Manajer Asahikan sebuah bioskop di Pontianak Ahmad Maidin, malah telah menyebarkan berita fitnah yang meresahkan. Misalnya, kota Surabaya dibom dan pasukan Jepang kalah perang terus. Kabar itu tersebar pada Juli-Agustus 1943.

 

Pada akhir Januari 1944 terjadi lagi penangkapan tahap II. Sekitar 120 orang yang ditangkap, antara lain tokoh-tokoh Singkawang. Sedangkan penangkapan tahap III terjadi pada Februari 1944, menimpa para ambtnaar dan kaum intelektual pada zamannya. Pada 28 Juni 1944 itulah saat yang menyeramkan warga Pontianak.

 

Sejak awal April, pemerintah Jepang di Pontianak mendengar isu akan adanya pemberontakan. Suasana kota Pontianak pun menjadi tegang. Rupanya ada yang memanfaatkan situasi itu untuk memancing di air keruh, tiba-tiba Jepang mencurigai keluarga Sultan Muhammad Alkadrie yang akan menjadi otak pemberontakan. 

 

Sehingga terjadi penangkapan-penangkapan. Penangkapan-penangkapan tersebut terjadi antara September 1943 dan awal 1944.  Menurut sejarah hampir terdapat 21.037 jumlah pembantaian yang di bunuh oleh Jepang, namun Jepang menolaknya dan menganggap hanya 1.000 korban saja.

 

Hari itu ribuan balatentara Jepang mengadakan operasi kilat penangkapan orang-orang yang dicurigai. Dengan membabi buta setiap orang yang dianggap mempunyai intelektualitas terutama para ulama ditangkapi. Sultan Muhammad sendiri bersama para punggawanya “dijemput” paksa balatentara Jepang dari istananya.


Dengan disaksikan istri, anak cucu, punggawa dan sebagian rakyatnya, raja yang ahli ibadah itu dirantai dan kepalanya ditutupi kain hitam, sebelum dibawa pergi. Yang mengharukan, sebelum dibawa pergi Sultan Muhammad Alkadrie memutar-mutar tasbih di jari telunjuknya seraya bertakbir.

 

Rombongan pembesar kerajaan lalu dibawa ke depan markas Jepang di sisi lain sungai Kapuas (sekarang menjadi markas Korem). Di tempat itu satu persatu kepala mereka dipenggal, kemudian dimasukkan ke truk dan dibawa pergi entah kemana. Beruntung, tujuh bulan kemudian setelah Jepang sudah angkat kaki jasad Sultan Muhammad Alkadrie berhasil ditemukan di Krekot. Penemuan itu sendiri berkat laporan salah seorang penggali lubang makam yang berhasil lolos dari pembantaian serdadu Jepang.

 


Zaman pendudukan Jepang lebih menyeramkan daripada masa pendudukan Belanda. Peristiwa mandor terjadi akibat ketidaksukaan penjajah Jepang terhadap para pemberontak. Karena ketika itu Jepang ingin menguasai seluruh kekayaan yang ada di Bumi Kalimantan Barat.

 

 

Meskipun demikian ternyata menurut sejarah yang dibantai bukan hanya kaum cendekiawan maupun feodal namun juga rakyat-rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa. Tidak diketahui apakah karena tentara Jepang memang bodoh atau apa, kala itu pisau dilarang oleh penjajah Jepang.

 

 

Jepang memang telah menyusun rencana genosida untuk memberangus semangat perlawanan rakyat Kalbar kala itu. Sebuah harian Jepang Borneo Shinbun, koran yang terbit pada masa itu mengungkap rencana tentara negeri samurai itu untuk membungkam kelompok pembangkang kebijakan politik perang Jepang. Tanggal 28 Juni diyakini sebagai hari pengeksekusian ribuan tokoh-tokoh penting masyarakat pada masa itu. 

 

Demikian peristiwa itu kemudian diperingati sebagai peristiwa mandor setiap tanggal 28 juni menjadi hari berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan tulisan Syafaruddin Usman MHD dalam Harian Equator, terungkap setidaknya ada 48 nama korban yang dimuat Borneo Sinbun hari itu, lengkap dengan keterangan umur, suku, jabatan atau pekerjaan, mereka adalah:

 

JE Pattiasina,                  Syarif Muhammad Alkadri,               Pangeran Adipati,

Pangeran Agung,             Ng Nyiap Soen,                               Lumban Pea,

dr Rubini,                       Kei Liang Kie,                                 Ng Nyiap Kan,

Panangian Harahap,          Noto Soedjono,                              FJ Loway Paath,

CW Octavianus Lucas,       Ong Tjoe Kie,                                Oeray Alioeddin,

Gusti Saoenan,                Mohammad Ibrahim Tsafioeddin,       Abdul Samad,

Sawon Wongso Atmodjo,     dr Soenaryo Martowardoyo,             M Yatim,

Rd Mas Soediyono,            Nasaruddin,                                   Soedarmadi,

Tamboenan,                     Thji Boen Khe,                          Nasroen St Pangeran,

E Londok Kawengian,          WFM Tewu,                                 Ng Loeng Khoi

Wagimin bin Wonsosemito,    Theng Swa Teng,                        dr Ismail

dr RM Ahmad Diponegoro,      Ahmad Maidin,                           AFP Lantang

Tengkoe Idris,                    Goesti Mesir,                               Syarif Saleh,

Gusti A Hamid,                   Ade M Arief,                                Goesti M Kelip,

Goesti Djafar,                  Rd Abdulbahri Danoeperdana,           M Taoefik,

Rd Nalaprana.                 Amaliah Rubini (istri dr Rubini),

 

Nurlela Panangian Harahap (istri Panangian)

 

Nama-nama tersebut hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan korban yang mati secara tragis karena diculik dari rumah mereka kemudian dibantai oleh tentara jepang dilokasi yang sekarang ditandai dengan dibangun sebuah monument yang dihiasi relief-relief untuk menggambarkan bagaimana proses penculikan sampai pembantaian terjadi.

 

Banyaknya korban dan kekejaman tiada tara dikemudian hari dapat disaksikan melalui tulang-belulang yang berserakan dilokasi tersebut, tengkorak-tengkorak kepala yang terlepas dari raganya dapat melukiskan bagaimana nyawa-nyawa mereka berakhir diujung samurai. Bahkan saking banyaknya korban yang harus dieksekusi, dilokasi tersebut beberapa saat yang lalu sering ditemukan patahan-patahan samurai.

 

Pada dasarnya bahwa tentara pendudukan jepang sengaja melakukan tindakan-tindakan biadap tersebut guna memberangus dan mematahkan semangat dan perlawanan masyarakat Kalimantan barat terhadap jepang. Penangkapan dilakukan dalam beberapa tahap, Pada awal pendudukan Jepang, tulis Iseki, keadaan di Kota Pontianak dan masyarakatnya sangat damai. Tidak ada gerakan anti-Jepang. Tapi pada Juli 1943, terbongkar komplotan melawan Jepang di Banjarmasin.

 

Otaknya adalah BJ Haga bekas Gubernur Belanda di Borneo. Tentara Jepang tak memberi ampun. Haga dan 800 orang yang dituduh terlibat gerakan itu dihabisi oleh Administrator Kaigun, Iwao Sasuga.

 

Sungguhpun jumlah korban kekejaman Westerling  jauh lebih kecil tetapi peristiwa tersebut ada dalam pelajaran sejarah nasional, sehingga semua anak Indonesia pernah mempelajari kejadian tersebut, sementara kekejaman Jepang yang menelan korban puluh ribuan orang di Kalimantan Barat tidak ada dalam pelajaran sejarah nasional sehingga tidak dipelajari oleh para pelajar di Indonesia. Oleh karena itu janganlah heran, jika sebagian besar masyarakat Indonesia pada hari ini dan bahkan hari esok tidak mengetahui adanya kekejaman Jepang di tempat kelahirannya dan tanah tumpah darahnya. 


Jika ini terus dibiarkan, apa tidak mungkin generasi selanjutnya tidak mengetahui adanya peristiwa sejarah kekejaman kemanusiaan itu. Ahli sejarah mengatakan, semestinya setiap orang mengetahui peristiwa seratus tahun atau satu abad sebelum ia dilahirkan.

 

Sumber: Disarikan dari berbagai sumber tulisan

Share Post: