Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Pontianak

By Administrator // Jumat, 08 November 2019 // 11:58 WIB // ADP4MEP

Angka inflasi merupakan hal yang penting bagi kegiatan perekonomian. Kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi di daerah dapat dicapai melalui stabilitas harga barang dan jasa serta tercermin dalam tingkat inflasi yang rendah. Dalam kaitan ini, upaya mengawal tingkat inflasi di daerah dalam level yang rendah dan stabil menjadi sangat penting.  Namun, adanya kenyataan bahwa aktivitas kegiatan ekonomi di daerah masih dihadapkan pada berbagai persoalan mendasar seperti rendahnya konektivitas dan efisiensi sistem logistik, tingginya ketergantungan produktivitas pangan pada faktor cuaca, serta struktur pasar yang terdistorsi merupakan tantangan terbesar bagi terjaganya stabilitas harga.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, berbagai langkah telah ditempuh Tim Pengendalian Inflasi Daerah Kota Pontianak. Sejalan dengan kebijakan yang ditempuh di tingkat pusat, pengendalian inflasi di Kota Pontianak pada intinya juga diarahkan untuk memperkuat forum koordinasi lintas sektoral, melakukan operasi pasar, melakukan pengawasan secara intensif terhadap ketersediaan bahan pangan pokok, terutama pada saat perayaan hari keagamaan, dan mengarahkan ekspektasi inflasi melalui berbagai program komunikasi secara intensif. Selain itu, beberapa program kegiatan yang diinisiasi TPID Kota Pontianak juga sudah diimplementasikan oleh TPID.

Secara tahunan, inflasi Kota Pontianak menunjukkan tren yang cenderung menurun sejak tahun 2017 tetapi belakangan sejak akhir tahun 2018 terlihat indikasi kenaikan. Sebagai bahan evaluasi kita bersama, angka inflasi Kota Pontianak pada tahun 2018 adalah 3,99 persen. Angka tersebut naik 0,13 persen dari angka inflasi tahun 2017 yaitu 3,86 persen. Dengan program kerja yang telah di susun diharapkan angka inflasi Kota Pontianak dapat diturunkan ataupun di pertahankan di bawah angka 4 persen. Dalam hal ini rekomendasi Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat sangat kita butuhkan. Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat pada tahun 2019 ini menargetkan angka inflasi 3,5±1%.

Ada beberapa risiko tekanan inflasi:

  1. Tingkat tarif angkutan udara yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, dapat mendorong terjadinya inflasi administered price;
  2. Kenaikan biaya pokok penyediaan pembangkit listrik, dapat mendorong kenaikkan tarif dasar listrik dan berdampak pada inflasi administered price;
  3. Kebakaran lahan, bahan kabut asap dan anomali cuaca, dapat mempengaruhi ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi komoditas, yang pada akhirnya akan mendorong terjadinya inflasi volatile foods;
  4. Bencana alam pada daerah sentra produsen BAPOK, dapat berdampak pada ketersediaan pasokan komoditas dan mendorong terjadinya inflasi volatile foods;
  5. Pemberian THR, dapat mendorong peningkatan ekspektasi harga barang dan jasa mendorong inflasi secara umum.
Share Post: