Obyek & Atraksi Wisata di Kota Pontianak

 

Makam Batu Layang

Makam batu layang atau biasa di sebut dengan Taman Makam Kerajaan Pontianak adalah tempat dimakamkannya Raja pertama (Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie) hingga raja terakhir (Sultan Hamid II) serta beberapa keluarga raja. Tempat ini biasanya ramai di kunjungi, khususnya pada hari besar islam. Taman Makam ini terletak kurang lebih 2 Km dari Tugu Khatulistiwa yang dapat dikunjungi dengan menggunakan transportasi darat maupun transportasi air (sampan).

 

    

 

Taman Alun Kapuas

Taman rekreasi ini terletak di jalan Rahadi Usman, tepatnya di depan kantor Walikota Pontianak. Taman ini diberi nama Taman Alun Kapuas menawarkan pemandangan unik tepian sungai Kapuas dengan dilengkapi taman dan air mancur menari yang tertata dengan baik. Taman ini merupakan alternatif tempat rekreasi keluarga yang murah, nyaman dan indah bagi keluarga.

 

    

 

Tugu Khatulistiwa

Sekitar lima kilometer sebelah utara dari pusat Kota Pontianak, dapat ditemukan sebuah tugu khatulustiwa sebagai penanda garis 00 equator yang membagi bumi menjadi dua bagian.  Kejadian alam yang unik dimana posisi titik perpotongan antara pusat matahari dengan garis Khatulistiwa disebut kulminasi, terjadi pada setiap tanggal 21-23 Maret dan September menjelang tengah hari. Puncak peristiwa kulminasi matahari ini dapat disaksikan hanya sekitar 5-10 menit. Sembari menunggu peristiwa kulminasi, di kawasan tugu diadakan serangkaian acara kesenian tradisional. Saat ini Kawasan Tugu Khatulistiwa sedang dikembangkan menjadi kawasan wisata yang terpadu oleh pihak ketiga. 

            

 

Keraton Kadriah Kesultanan Pontianak

Keraton Kadriah Pontianak adalah pusat Pemerintahan Pontianak tempo dulu yang didirikan oleh Sultan Syarief Abdurrahman Alqadrie pada tahun 1771. Keraton ini memberikan daya tarik khusus bagi para pengunjung dengan banyaknya artefak atau benda-benda bersejarah sebagai saksi bisu sejarah perkembangan Kota Pontianak. Keraton Kadriah yang berada di daerah kampung dalam bugis, kecamatan Pontianak Timur ini, dapat di capai dalam waktu kurang lebih 15 menit dari pusat Kota Pontianak.

            

 

Masjid Jami

Masjid Jami’ adalah salah satu masjid besar peninggalan masa kesultanan Pontianak. Lokasinya berada di pinggiran sungai yang indah dan masih asli, walaupun struktur dari masjid Jami’ tersebut  telah mengalami rekonstruksi. Setiap jum’at siang, kayu belian yang masih ada di dalam masjid turut bergema oleh suara adzan. Selama hari raya islam, masjid ini menjadi pusat beribadah bagi masyarakat dan warga sekitar yang memperingatinya. Masjid Jami’ dapat di jangkau dengan menggunakan sampan dari pelabuhan Seng Hie atau dengan mobil melewati jembatan kapuas.

          

 

Sungai Kapuas

Membelah Kota Pontianak menjadi 3 daratan, Sungai Kapuas sejak dahulu kala sudah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Kota Pontianak. Tak hanya berperan dalam aspek ekonomi, juga berperan dalam membentuk budaya dan adat kebiasaan masyarakat Pontianak. Letaknya yang membelah tepat di tengah kota dan terhubung ke beberapa titik obyek wisata di sepanjang tepian sungai, merupakan suatu anugerah yang menyimpan potensi wisata yang masih berpeluang besar untuk dieksplorasi lebih jauh.

      

 

Kawasan Beting

Lekat dengan sejarah pembentukan Kota Pontianak, kawasan Beting menyimpan berbagai romansa sejarah yang menggambarkan perkembangan kota Pontianak. Kondisi geografisnya yang terletak di kawasan pasang surut air sungai membentuk sebuah kawasan permukiman yang dilengkapi kanal-kanal dan gertak-gertak yang unik. Beting adalah Venesia-nya Pontianak, menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai sebuah kawasan wisata. Perlu komitmen dan usaha bersama-sama untuk mewujudkannya sebagai sebuah kawasan wisata yang idela, mengingat stigma negatif  yang melekat di kawasan tersebut.

     

 

Rumah Radakng - Rumah Melayu

Etnis Melayu dan Dayak merupakan etnis terbesar yang mendiami wilayah Kalimantan Barat. Kedua etnis tersebut memiliki sejarah yang erat dengan perkembangan provinsi Kalimantan Barat. Keunikan ragam budaya tertuang dalam bangunan rumah adat yang menampilkan keanggunan khasanah arsitektur tradisional. Rumah Melayu dan Rumah Radakng merupakan rumah adat tradisional yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dalam kawasan budaya yang terletak di sekitar bundaran Kota Baru. Rumah adat tersebut biasanya digunakan sebagai tempat melakukan ritual ataupun acara-acara budaya/adat seperti gawai acara pernikahan, gawai dayak, dll. 

      

  

 

Kuliner Khatulistiwa

Kota Pontianak dengan perpaduan berbagai etnis (Melayu, Cina, Dayak, Jawa, Madura, Banjar, Bugis, dll) memiliki kenakeargaman kuliner yang kaya akan rasa, unik akan makna. Kota ini sudah terkenal sebagai kota yang memiliki beragam makanan yang lezat yang dipengaruhi oleh keberadaan etnis-etnis tersebut. Mie Tiaw, cai kue, air tahu, merpakan sedikit diantara pengaruh citarasa cina dalam khasanah kuliner Kota Pontianak. Sedangkan ikan asam pedas, paceri nanas, tumis pakis, sayur keladi merupakan pengaruh khas khasanah citarasa Melayu. 

          

    Ikan Senangin Asam Pedas                                                            Pisang Goreng Selai Pontianak                                        Chai Kue

    

Tumis Pakis                                                            Tau Swan                                                                                         Mie Tiaw